Sunday, 14 January 2018

MENGHITUNG UMUR (2): MERAIH HARAPAN




oleh: KH.Bachtiar Ahmad
=====================
           
Sebagaimana yang telah sama-sama kita maklumi, bahwa kesempatan yang kita miliki untuk berbuat semakin berkurang walau dalam hitungan angka waktu yang kita miliki semakin bertambah. Untuk itu selain dari memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk menambah amal kebajikan yang berkaitan dengan kehidupan akhirat yang akan kita jalani nanti setelah mati, maka tentu saja kita harus lebih giat lagi berusaha dan memohon pertolongan Allah untuk meraih impian atau cita-cita hidup duniawi yang kita dambakan. Entah itu dalam masalah pekerjaan; jodoh; karir dan lain sebagainya. Sebab bagaimanapun juga, apa-apa yang kita inginkan dalam kehidupan dunia ini tidaklah dilarang. Bahkan sebaliknya kita didorong untuk melakukannya sebagaimana yang Allah tegaskan dengan Firman-Nya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”  (Q.S.Al-Qashash: 77)

            Namun demikian walau telah silih berganti tahun berlalu dalam kehidupan yang kita jalani, apa yang kita inginkan tersebut belum juga terwujud. Padahal kita telah berusaha semaksimal mungkin; baik dengan cara lahiriah maupun dengan memohon kepada Allah. Lalu apa yang harus kita perbuat dalam sisa waktu yang kita miliki sekarang ini? Maka jawabannya adalah; Teruslah berusaha secara lahiriah dan memohon pertolongan Allah selagi masih ada waktu yang masih bisa kita manfaatkan. Jangan pernah putus asa dan kehilangan semangat untyuk meraihnya. Sebab yang demikian itu adalah satu kesalahan dan dosa besar yang hanya dimiliki oleh orang-orang kafir sebagaimana yang ditegaskan Allah dengan Firman-Nya: “dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”  (Q.S. Yusuf: 87)

            Selain itu sekadar untuk mengoreksi diri, maka seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abdullah Al-Ghazali; Bahwa tidak atau belum dikabulkannya apa yang menjadi keinginan kita tersebut mungkin disebabkan oleh beberapa faktor yang patut kita koreksi kembali.

            Pertama, memang kerja atau usaha kita untuk mencapai tujuan tersebut belumlah maksimal.

            Kedua, Allah Yang Maha Mengetahui menilai, bahwa apa yang kita inginkan itu bisa jadi tidaklah bermanfaat untuk kita, bahkan bisa-bisa akan mengurangi nilai keimanan; keta’atan dan rasa syukur kita kepada Allah. Sebab pada hakikatnya apa yang Allah berikan itu bukanlah keinginan kita, melainkan apa yang baik untuk kita. Sekalipun secara lahiriah hal itu buruk dalam pandangan kita. Dan inilah yang tersirat dalam Firman Allah: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

            Ketiga, berkaitan dengan Firman Allah dalam Surah Al-Mukmin atau Surah Ghafir ayat 60: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.”  (Q.S. Al-Mukmin: 60)

            Syaikh Abdullah Al-Ghazali menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada seorang pun yang berdo’a dengan sebuah doa yang tidak ada dosa di dalamnya dan dia tidak memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan do’anya dengan salah satu dari tiga perkara; Kesatu, disegerakan baginya (dikabulkan  doanya) di dunia atau; Kedua, dikabulkan do’anya sebagai simpanan untuk akhiratnya atau Ketiga, dijauhkan dirinya dari segala macam keburukan atau yang semisalnya.” (HR. Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudry r.a)

            Maknanya adalah, bahwa do’a yang selama ini kita mohonkan kepada Allah tetap dikabulkan-Nya; Entah itu sebagai simpanan bagi kita atau mungkin sebagai penolak bala yang menjauhkan kita dari segala macam keburukan atau kejahatan yang dapat menimpa diri kita.

            Ke-empat, ini yang terpenting yang patut kita evaluasi atau kita cermati; Bahwa mungkin saja ada usaha dan do’a kita yang tidak cukup syarat dan rukunnya; atau bahkan bisa disebut bertentangan dengan apa-apa yang telah ditetapkan dan yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Kata orang, masih tumpang tindih perbuatan baik dengan yang buruk; yang halal dengan yang haram. Sehingga pada akhirnya apa saja yang kita perbuat akan menjadi suatu kesia-sian belaka. Kalaupun ada  dan kita berhasil mendapatkan apa-apa yang kita inginkan, maka jangan-jangan hal itu adalah semacam “istidraj”. Artinya dengan cara itu Allah membiarkan kita untuk terus menerus berada dalam perbuatan dosa, yang pada akhirnya sedikit demi sedikit nilai keimanan  kita tidak lagi ada artinya sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dengan sabda beliau: Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka ketahuilah, bahwa hal itu adalah istidraj, yakni nikmat yang disegerakan Allah baginya di dunia, sehingga ia tidak mendapatkan apa-apa di akhiratnya.” (HR. Ahmad dari Uqbah bin Amir r.a)

            Oleh karenanya adalah wajib bagi kita untuk muhasabah atau mengoreksi diri. Apakah masih ada hal-hal yang mungkar yang masih kita lakukan atau tidak. Baik kita merasa bersalah atau tidak, maka dianjurkan untuk banyak beristighfar memohon ampunan Allah, agar apa yang menjadi harapan di-ijabah dan dikabulkan sebagaimana yang tersirat dalam Firman Allah: “Dan (Hud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Q.S. Hud: 52)

Semoga apa yang kita harapkan sejak lama dikabulkan Allah dalam sisa waktu yang kita miliki. Aamiin ya robbal ‘aalamiin. Wallahua’lam.

Bagansiapiapi, 27 Rabi’ul Akhir 1439 H / 14 Januari 2015
KH.Bachtiar Ahmad

Sekapur Sirih

Bagi yang berminat dengan tulisan yang ada, silahkan dicopy agar dapat berbagi dengan yang lain sebagai salah satu upaya kita untuk menunaikan “amar ma’ruf nahi munkar” yang diperintahkan Allah SWT.