Friday, 3 March 2017

GERAK KEHIDUPAN

oleh: KH.Bachtiar Ahmad
=====================
 “Hidup” ini identik dengan “gerak”, sama dengan kematian yang identik dengan diam. Jadi untuk menandakan adanya kehidupan dalam diri seseorang, maka dia harus selalu bergerak melakukan aktifitas. Dia tidak boleh berhenti pada satu titik dan keadaan atau satu usaha saja, jika ia ingin sukses atau berhasil mendapatkan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan duniawi maupun akhiratnya. Sebab yang demikian inilah yang tersirat dan tersurat dalam Firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S.Ar-Ra’d: 11)
Berkaitan dengan hal itu Syaikh Abdullah Al-Ghazali, kondisi  itu juga tersirat dalam Firman Allah:
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Q.S. Al-Insyirah: 7)
                Artinya adalah, bahwa  hendaklah setiap orang beriman itu tidak bersantai-santai dan membuang waktunya dengan begitu saja; mereka berkewajiban memanfaatkan waktu yang diberikan Allah dengan semaksimal mungkin untuk  kepentingan dunia dan akhiratnya. Atau dengan pemahaman lain; Jika sudah menunaikan perintah yang wajib, maka tunaikan pula yang disunnahkan. Setelah selesai dengan usaha untuk akhirat, maka berusahalah untuk dunia atau sebaliknya juga demikian; selesai tugas dunia kerjakan tugas untuk akhirat. Dan beristirahatlah seperlunya sebagaimana yang tersirat dalam Firman Allah Ta’ala:
          “Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.” 
                                                                                                        (Q.S.Yunus: 67)
       Selain itu, mereka tidak boleh diam dan terpaku begitu saja dalam satu masalah; mereka harus berinovasi mencari jalan keluar dari kegagalan yang mungkin terjadi sebagaimana yang tersirat dan tersurat dalam Firman Allah Ta’ala:
 “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S.An-Nisaa': 100)
As-Syaikh Abdullah Al-Ghazali menjelaskan; agar tidak mudah bosan dan merasa kecewa lantaran tujuan yang diharapkan tidak pernah tercapai, maka perlu dipahami lebih dulu untuk apa kita harus terus bergerak dalam kehidupan yang tengah dijalani.
         Pertama; renungi dan pahami untuk apa sebenarnya kita hidup. Dan apa yang harus kita perbuat untuk mengisi hidup yang sedang dijalani. Untuk hal ini tentunya kita mengacu pada apa yang telah Allah jelaskan di dalam Kitab-Nya:
         “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S.Adz-Dzariyat: 56)
        Sedangkan  makna ibadah itu sendiri secara umum adalah; Mengerjakan atau melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk kepentingan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak berdasarkan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala melalui Rasul-Nya; Baik perbuatan yang berhubungan langsung dengan Allah (hablum-minallah) yang disebut juga sebagai “ibadah mahdah” ataupun hubungan dengan sesama manusia (hablum-minannaas) yang disebut juga sebagai “ibadah muamalah”.  Jadi dengan memahami tujuan hidup tersebut, maka tentulah akan timbul dorongan atau hasrat untuk bergerak dan berusaha mendapatkan apa yang menjadi kepentingan hidup yang dijalani dan sekaligus mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat setelah kematian datang menjemput dirinya.
         Kedua: Memasang atau membuat target atas tujuan hidup yang ingin dicapai. Artinya seseorang yang sudah memahami untuk apa dia diciptakan dan apa tujuan hidup yang dicapainya, tentulah harus membuat target atau sasaran yang ingin dicapainya. Persoalan apakan dia akan berhasil atau tidak mencapai target atau sasaran yang diharapkannya, adalah masalah kedua. Sebab sebagai orang yang beriman tugasnya hanyalah berusaha semaksimal mungkin  sebagaimana yang Allah perintahkan, dan menyerahkan semua hasil usahanya pada ketentuan atau kehendak Allah. Atau dengan istilah agama “bertawakkal kepada Allah” sebagaimana yang tersurat dan tersirat dalam Firman Allah:
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Hud: 123)
Dan wajib dipahami, bahwa makna tawakkal itu bukanlah berdiam diri menunggu datangnya rahmat dan nikmat Allah, tapi seseorang wajib bergerak dan mengusahakan apa yang menjadi target atau sasaran hidup yang ingin dicapainya. Baik untuk kepentingannya di dunia maupun diakhirat nanti sebagaimana yang ditegaskan Allah Ta’ala dalam Firman-Nya:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”   (Q.S.Al-Qashash: 77)
Ketiga: Hendaklah selalu ingat, bahwa waktu yang diberikan Allah kepada kita  sangatlah terbatas. Hal ini tersirat dengan jelas dalam Firman Allah Ta’ala:
 “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memaju-kannya.” (Q.S. Al-A’raf: 34)
Dan oleh karena alasan inilah Allah menyuruh kita untuk terus bergerak dan berlomba dengan yang lainnya untuk mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya, sebagaimana Firman-Nya:
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.  Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S.Al-Baqarah: 148)
Oleh sebab itu janganlah membuang-buang waktu dengan hanya berdiam diri saja, cobalah terus bergerak dan lakukan sesuatu untuk kepentingan dan kebaikan diri sendiri maupun orang lain, yang semuanya itu bermanfaat untuk kehidupan dunia yang tengah kita jalani dan akhirat yang akan kita hadapi. Wallahua’lam.

Bagansiapiapi, 4 Jumadil Akhir 1438 H / 3 Maret 2017
KH.Bachtiar Ahmad

Sekapur Sirih

Bagi yang berminat dengan tulisan yang ada, silahkan dicopy agar dapat berbagi dengan yang lain sebagai salah satu upaya kita untuk menunaikan “amar ma’ruf nahi munkar” yang diperintahkan Allah SWT.