Friday, 21 June 2013

BBM UNTUK RAKYAT



oleh: KH.bachtiar Ahmad
=====================
Suatu malam ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a sedang sibuk mencatat hal-hal yang berkaitan dengan rakyat dan pemerintahannya, masuklah seorang laki-laki muda menghadapnya. Setelah menjawab salam laki-laki tersebut dan mempersilahkannya duduk, Umar pun bertanya tentang maksud dan tujuan laki-laki itu datang kepadanya.

“Wahai amirul mukminin, ma’af beribu ma’af hamba mohonkan dari tuan, jika kedatangan hamba ini telah mengganggu ketenangan dan pekerjaan tuan”, laki-laki itu memulai pembicaraannya denga “Sang Khalifah”.

“Tak ada yang perlu dima’afkan wahai anak muda. Sebagai orang yang telah diberi amanah oleh Allah untuk mengurus rakyatnya, maka sudah selayaknyalah hamba menerima kedatangan anda. Sekarang coba jelaskan keperluan anda dan bantuan apa yang dapat kuberikan kepada anda.”

“Wahai amirul mukminin, sa’at ini rumah hamba sedang gelap gulita; anak-anak hamba menangis ketakutan. Kami tak punya apa-apa ataupun “BBM” untuk menyalakan lampu. Disini hamba melihat tuan memiliki dua buah lampu, kiranya tuan berkenan memberikannya kepada hamba barang sebuah.”

Mendengar itu Umar bin Abdul Aziz r.a hanya tersenyum, lalu tanpa bicara sepatahpun “Sang Khalifah” memberikan salah satu lampu yang dekat dengan dirinya dan memberikannya kepada lalki-laki muda yang datang kepadanya itu. Dan setelah mengucapkan terima kasih, laki-laki muda itu lalu beranjak pergi meninggalkan kediaman Umar bin Abdul Aziz. Akan tetapi belum lagi dirinya sampai di pintu gerbang kediaman “Sang Khalifah”, langkah laki-laki muda itu dihentikan oleh seorang pengawal yang kemudian bertanya kepadanya: “Apakah engkau meminta lampu yang kau bawa itu kepada Amirul Mukminin ?”, tanya sang pengawal.

“Benar, karena rumah kami sa’at ini gelap gulita dan beliau telah memberikan lampu ini kepadaku”, jawab laki-laki tersebut.

Mendengar itu sang pengawal lalu berkata: “Wahai saudaraku, Amirul Mukminin memang orang yang bijak dan benar-benar memperhatikan keperluan rakyatnya, sampai-sampai adakalanya beliau melupakan apa yang menjadi kepentingan diri dan keluarganya sendiri. Sekarang maukah engaku berbalik sejenak ke belakang dan melihat keadaan Amirul Mukminin ?”

Setelah mendengar ucapan si pengawal, laki-laki tersebut lalu berbalik untuk melihat keadaan sebagaimana yang disarankan kepadanya. Dan alangkah terkejutnya dia, ketika dari tempatnya berdiri ia saksikan sendiri rumah “Sang Khalifah” yang gelap gulita. Dirinya tak habis piker, padahal ketika ia meninggalkan tempat itu masih ada sebuah lampu yang menyala. Dan iapun bertanya kepada si pengawal, tentang apa sebenarnya yang terjadi. Selanjutnya si pengawal menjelaskan, bahwa “Amirul Mukminin” juga tidak punya cadangan “BBM”, tadi memang ada dua buah lampu yang menyala, tapi sebenarnya yang satu sudah mau kering bahan bakarnya, sementara yang diberikannya kepada laki-laki itu adalah lampu yang masih penuh minyaknya, yang baru saja dinyalakan untuk berjaga-jaga kalau-kalau lampu yang satu itu mati, sehingga akan mengganggu pekerjaan “Sang Khalifah”. Dan demi mendengar penjelasan si pengawal, laki-laki tersebut lalu berbalik ke belakang untuk mengembalikan lampu yang dibawanya dan sekaligus minta ma’af kepada Umar bin Abdul Aziz r.a..

Akan tetapi ketika ia sudah sampai di hadapan “Sang Khalifah” dan menjelaskan maksudnya untuk mengembalikan lampu yang ada di tangannya, Umar bin Abdul Aziz r.a berkata kepadanya: “Tidak itu sudah menjadi hak anda, karena sudah kuberikan kepada anda. Saya bukannya tidak mau menerimanya, tapi saya takut kepada Allah karena menggunakan sesuatu yang bukan milik saya. Walaupun sa’at ini saya telah diangkat sebagai “Amirul Mukminin”, tapi bukan berarti saya berhak berbuat semaunya. Jadi pulanglah dan bawalah lampu ini kepada keluargamu.”

Laki-laki itu menggigil mendengar ucapan “Sang Khalifah” dan sambil menangis tersedu-sedu, ia melangkahkan kaki menuju rumahnya sebagaimana yang dikehendaki Umar bin Abduul Aziz r.a.
Wallahua’lam

(dinukil dan diedit dari KISAH-KISAH SUFISTIK)

Jakarta, 12 Sya’ban 1434 H / 21 Juni 2013.
KH.BACHTIAR AHMAD

No comments:

Post a Comment

Sekapur Sirih

Bagi yang berminat dengan tulisan yang ada, silahkan dicopy agar dapat berbagi dengan yang lain sebagai salah satu upaya kita untuk menunaikan “amar ma’ruf nahi munkar” yang diperintahkan Allah SWT.