Senin, 02 April 2012

MAKNA “ZALIM”



oleh: KH.BACHTIAR AHMAD
=======================
Dalam Al-Quran terdapat kurang lebih 200 ayat yang khusus membicarakan dan menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan masalah “zalim” atau “kezaliman”, suatu perkara yang sangat dibenci oleh Allah SWT sebagaimana yang tersurat dalam salah satu firman-NYA:

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada merekadengan sempurna  pahala amalan-amalan mereka; dan Allah sangat benci kepada orang-orang yang zalim.”  (Q.S.Ali ‘Imraan: 57)
               
Secara umum makna kata “zalim” yang kita kenal adalah segala sesuatu perbuatan jahat ataupun berbuat aniaya; baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri dan makhluk lainnya.

Sedangkan menurut syariat (agama Islam) yang mengacu pada firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat  229 yang berbunyi: “Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim”; maka makna “zalim” yang didefinisikan oleh para ulama mendefinisikan adalah:

“Segala sesuatu  tindakan atau perbuatan  yang  melampaui batas,  yang  tidak  lagi  sesuai  dengan  ketentuan  yang  telah ditetapkan oleh Allah SWT.  Baik dengan cara menambah  ataupun  mengurangi hal-hal yang berkaitan dengan waktu; tempat atau letak maupun sifat dari perbuatan-perbuatan yang melampaui batas tersebut. Dan itu berlaku untuk  masalah-masalah yang berkaitan dengan ibadah (hablum-minallah), maupun hubungan kemanusiaan dan alam semesta (hablum-minannaas).  Entah itu dalam skala kecil maupun besar, tampak ataupun tersembunyi.”

Dan oleh karena Allah SWT juga menyandingkan kata kezaliman  dengan kebodohan sebagaimana firman-NYA dalam surah Al-Ahzab ayat 72: “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”; maka dalam pandangan agama orang-orang zalim tersebut sesungguhnya  dipandang  sebagai  orang  yang  bodoh. Dalam hal ini semakin  zalim  dirinya, maka semakin tinggilah kebodohannya. Sekalipun secara lahiriah ia memiliki pendidikan yang tinggi, gelar yang banyak maupun jabatan; kedudukan dan kekuasaan yang dipandang hormat oleh orang lain.

Dalam catatan yang ringkas  ini   kita tidak mungkin dapat menguraikan satu persatu bentuk kezaliman dan kebodohan yang telah dilakukan umat manusia. Akan tetapi dengan memperhatikan dan memahami apa-apa yang telah difirmankan Allah SWT di dalam Al-Quran, maka diantara bentuk perbuatan zalim yang sangat dibenci dan yang dmurkai Allah SWT antara lain adalah:

Mempersekutukan Allah; Mendustakan Allah; Menyembunyikan kebenaran; Menyalahi janji; Orang-orang yang fasik; Menyalah gunakan jabatan dan amanah yang diberikan; Orang-orang beriman yang mengikuti perilaku dan keinginan orang kafir;  Orang yang mengingkari Rasulullah SAW serta  perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum lainnya, yang telah ditetapkan oleh Allah.  

Disamping apa yang telah dijelaskan di atas, maka Syaikh Yusuf Qardhawi dalam Al-Ijtihad menjelaskan; pelanggaran atas peraturan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang telah disepakati sebelumnya, selama peraturan itu tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah dan rasul-Nya; adalah juga merupakan tindakan zalim yang menunjukkan seseorang pada kebodohan dirinya.

Berkaitan dengan hal ihwal yang berkaitan dengan “kezaliman”, maka satu hal yang patut dipahami dan diyakini adalah; Bahwa segala keburukan dan kemudaharatan yang  ditimpakan Allah kepada manusia  akibat dari kezaliman yang mereka perbuat; Hal itu bukanlah perbuatan atau tidakan “zalim”  Allah kepada makhluk-Nya. Segala keburukan dan kemudharatan tersebut  semata-mata ber-sumber keserakahan dan kebodohan manusia itu sendiri, yang secara tegas telah  dinyatakan Allah dengan firman-NYA:
 
“Sesungguhnya Allah tidaklah berbuat zalim kepada manusia barang sedikitpun, akan tetapi manusia itu sendirilah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. “  (Q.S. Yunus: 44)

Kondisi ini hendaklah benar-benar disadari, sebab siapa saja yang menampakkan kebodohannya dengan perbuatan zalim yang ia lakukan, maka Allah SWT tidak akan pernah mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT sebagaimana firman-NYA:  

“Dan bagi orang-orang  yang zalim itu tidak ada bagi mereka  seorang pelindungpun dan tidak pula seorang  penolong baginya.”    (Q.S.As-Syura : 8)
               
Mudah-mudahan catatan pendek ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya  dalam upaya meningkatkan ketaatan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Wallahua’lam.

Bagansiapiapi,    7  Jumadil Awal  1433 H /  30  Maret  2012.
KH.BACHTIAR AHMAD

1 komentar:

  1. assalamualaykum wr wb...izinkan saya mengutip tulisan kyai untuk saya sampaikan kembali di majelis..

    Jazakallah khair
    salam ta'dzim

    Agus al Muhajir

    BalasHapus