Rabu, 15 Agustus 2012

PUASA SEUMUR HIDUP (bag.2)


oleh: KH. BACHTIAR AHMAD
========================
 PUASA INDRAWI.
Kita tentu juga maklum, bahwa dalam “puasa” juga diperintahkan untuk mengatur dan mengendalikan nafsu melalui pemanfaatan indra tubuh yang ada, sebagaimana yang tersirat dan tersurat dalam sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, dan perbuatan dusta dan jahil/bodoh, maka Allah tidak butuh akan lapar dan dahaga (puasa) mereka.” (HR. Bukhari; Abu Dawud dari Abu Hurairah r.a)

Dalam hadis yang lain dinyatakan oleh Rasulullah SAW: “Jika kamu sedang berpuasa, maka jangan berkata keji; jangan ribut (marah) dan jika ada orang yang memakimu atau yang mengajakmu berkelahi, hendaklah dikatakan kepadanya “saya sedang berpuasa”.  (HR. Muttafaq ‘alaihi dari Abu Hurairah r.a)

Dan tentu saja pengendalian indrawi tubuh agar tidak terpengaruh oleh kejahatan nafsu juga berlaku pada hari-hari yang lain. Tidak hanya hanya di bulan Ramadhan. Dan untuk hal ini secara ringkas dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Yusron menjelaskan sebagai berikut:
Yang Pertama: Puasa menjaga Lidah / Pembicaraan.
Kewajiban menjaga lidah atau pembicaraan tidak hanya selama bulan Ramadhan tatkala seseorang sedang berpuasa, tetapi  kewajiban itu sebenarnya berlaku seumur hidupnya, sebagai salah satu tanda bahwa ia adalah orang yang beriman sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, maka hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya; Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, maka hendaklah ia menghormati tamunya; Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, maka hendaklah ia berkata yang baik-baik atau lebih baik diam jika ia tak mampu melakukannya.” (HR. Muttafaq ‘alaihi; Abu Dawud dari Abu Hurairah r.a)              

Dan kewajiban tersebut semakin dipertegas oleh Allah SWT sebagaimana yang tersirat dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman; dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujuraat: 11)

Dan dalam ayat lainnya Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan Ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (Q.S. An-Nahl: 116)

Yang kedua: Puasa menjaga Telinga / Pendengaran.
Kita tentu maklum bahwa “telinga” juga memiliki peranan yang  sensitif  dalam membangkitkan nafsu jahat yang ada di dalam diri manusia. Oleh sebab itulah Allah memerintahkan kita untuk senantiasa memelihara telinga atau pendengaran kita, agar tidak tidak mudah terpancing pada hal-hal yang buruk akibat “salah mendengar”. Hal ini dinyatakan Allah melalui firman-Nya:

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". (Q.S. Al-Qashash: 55)

Sedangkan dalam ayat lainnya Allah SWT berfirman:

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”(QS. An-Nuur: 12)
Yang ketiga: Puasa menjaga Mata / Penglihatan.
Dari sekian banyak “indera” tubuh yang dikaruniakan Allah kepada kita, maka (barangkali) matalah yang paling utama untuk dipuasakan. Sebab kalau disimak dari keadaan hidup  kita  sehari-hari,  maka  lebih  banyak  kemungkinan- kemungkinan buruk yang bisa terjadi oleh sebab pandangan mata. Oleh sebab itulah dalam hal ini Allah SWT menggandeng perintah puasa sekaligus dengan perintah untuk mempuasakan (mengendalikan) syahwat yang kita miliki. Bahkan perintah tersebut tidak disebutkan-Nya secara umum untuk laki-laki ataupun perempuan, melainkan disebutkan 2(dua) kali. Sekali bagi laki-laki dan sekali lagi untuk kaum perempuan. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka; Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS.An-Nuur: 30)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31)

Syahwat yang dibangkitkan oleh pandangan mata tidak hanya berkaitan dengan “urusan kemaluan”, tapi juga urusan perut atau selera makan; kepemilikan harta benda; jabatan dan lain-lain sebagainya sebagaimana yang telihat dalam kasus-kasus kejahatan yang ada di sekitar kita seperti kasus pemerkosaan; perampokan harta benda; pembunuhan dan lain sebagainya.

Inilah beberapa hal yang patut kita pahami tatkala kita melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Mudah-mudahan dengan demikian kita dapat menjadikan ibadah “puasa ramadhan”  tahun ini dengan sebaik-baiknya, dan akan terus mengaplikasikan hasilnya di setiap bulan di sepanjang tahun yang kita lalui dalam kehidupan. Sehingga dengan demikian nilai-nilai takwa yang kita miliki akan senantiasa terpelihara; dan insya Allah kita akan menjadi salah seorang yang paling dekat kepada Allah SWT sebagaimana yang di-isyaratkan Allah dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat: 13)

Wallahu’alam

Jakarta, 25 Ramadhan 1433 H / 15  Agustus 2012
KH. BACHTIAR AHMAD

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar