Jumat, 12 April 2013

MENJAGA AMAL SALEH




Sementara dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya; kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka); kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (Q.S. At-Tiin: 4-6)

Secara umum “amal saleh” itu adalah penjabaran dari “iman kepada Allah Ta’ala” dalam bentuk perbuatan; tindakan maupun ucapan yang dilakukan seseorang; baik dalam hal melaksanakan apa-apa yang telah ditetapkan dan diwajibkan Allah dan Sunnah Rasulullah SAW maupun hal-hal lainnya yang tidak dijelaskan secara rinci dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan semuanya itu dilakukan demi melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, serta semata-mata mencari dan mengharapkan ridho Allah SWT. Dan oleh hal yang demikian inilah, maka “sekecil” apapun amal saleh yang dilakukan wajib dijaga dan dipelihara, agar apa yang dilakukan itu tidak sia-sia belaka dan malah balik merugikan diri sendiri.

Sehubungan dengan hal itu pula, maka dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW menjelaskan tentang 6(enam) perbuatan atau sikap yang patut diwaspadai dan dijauhkan dari diri, agar amal saleh tidak menjadi rusak. Sebab 1(satu) saja di antara yang enam itu dimiliki oleh seseorang,  maka semua kebajikan dan amal saleh yang dilakukan dapat menjadi rusak dan sia-sia.

Yang pertama adalah “berprasangka buruk dan sibuk mengurusi orang lain” yang dalam hal ini secara tersirat diperingatkan Allah SWT dengan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.  Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujuraat: 12)

Yang kedua adalah “keras hati” yang menyebabkan tumbuhnya “penyakit hati” seperti riya’; ujub; takabbur dan hasad yang sangat berbahaya bagi kehidupan seseorang; baik di dunia maupun di akhirat kelak. Tentang hal ini Allah SWT mengingatkan: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Q.S. An-Nisaa’: 36)

Allah SWT  juga menegaskan:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. An-Nisaa’: 142)

“Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripada Allah.” (Q.S. An-Nisaa’: 173)

Yang ketiga adalah “cinta dunia”, suatu perkara yang tidak layak dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Sebab “cinta dunia” pada hakikatnya adalah sesuatu yang telah Allah khususkan bagi orang-orang kafir sebagaimana firman-Nya: “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (Q.S. Al-Baqarah: 212)

Yang ke-empat adalah “panjang angan-angan” yang bersumber dari bisikan syaitan yang dilaknat Allah sebagaimana yang dijelaskan Allah dengan firman-Nya: “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (Q.S. An-Nisaa’: 120)

Yang kelima adalah “berbuat zalim” kepada sesama. Orang yang zalim adalah orang yang selalu merugi sebagaimana pernyataan Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (Q.S. Yusuf: 23)

Kezaliman tidak hanya dapat dirasakan oleh seseorang secara phisik dan material, tapi juga  secara bathiniah akibat tindakan dan ucapan buruk yang dilakukan seseorang kepada orang lain.  Orang yang zalim sangatlah dibenci oleh Allah, dalam hal ini jangankan bersahabat dan melakukan kerja sama dengan mereka, bahkan untuk merasa cenderung dan senang kepada si zalim pun, Allah melarangnya secara tegas:  “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Q.S. Huud: 113)

Yang ke-enam adalah “tidak punya rasa malu”.
Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang tertinggi adalah kalimat “Laa ilaha illallaah”; dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan rasa malu itu adalah salah satu dari cabang iman.” (HR. Mutafaq ‘alaihi dari Abu Hurairah r.a)

Sedangkan dalam hadis yang lain diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu; jika yang satu sudah hilang, maka yang lainnya juga akan ikut hilang.” (HR.Al-Hakim dari Ibnu Umar r.a)

Inilah beberapa perkara atau perbuatan yang dapat merusak amal saleh kita, yang merubah keberuntungan menjadi kerugian; baik di dunia maupun di akhirat. Mudah-mudahan Allah SWT tetap memberikan pertolongan-Nya kepada kita, sehingga dengan demikian amal saleh yang kita lakukan senantiasa terjaga dan terpelihara. Wallahua’lam.

Bagansiapiapi, 01 Jumadil Akhir 1434 H / 12 April 2013.
KH.Bachtiar Ahmad.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar