Friday, 4 July 2014

SAYA TIDAK AKAN "GOLPUT" !



oleh: KH.Bachtiar Ahmad
=====================
Saya lahir di Indonesia, besar; menikah dan cari makan di Indonesia. Maka sebagai bagian dari bangsa Indonesia, saya berkewajiban untuk tunduk dan ta’at kepada  Pemerintah dan aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Akan tetapi kalau ditanya bagaimana saya hidup dan mati, maka sebagai orang yang beriman jawabannya adalah: “Saya akan hidup dan mati” sebagai seorang Islam (Muslim) sebagaimana yang diperintahkan Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Q.S. Ali ‘Imraan: 102)

Eit, tapi tunggu dulu, saya bukan penganut paham “Sekularisme”  yang memisahkan aturan hidup berbangsa dan bernegara dengan aturan hidup sebagai orang yang memiliki keyakinan agama.  Saya hanya ingin melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-NYA dengan sebaik-baik yang bisa saya tunaikan. Artinya adalah: Saya akan ta’at kepada Pemerintah dan hukum/aturan hidup  berbangsa dan bernegara selama hukum/aturan tersebut tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab yang demikian inilah yang ditegaskan Allah Ta’ala dengan Firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisaa’: 59)

Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dengan patuh dan menta’ati (pemerintahnya); baik dalam hal yang ia senangi maupun yang ia benci; melainkan jika ia diperintah untuk berbuat maksiat. Maka apabila ia diperintah untuk melakukan kemaksiatan, tidaklah ia boleh mendengarkan perintahnya dan tidak pula boleh mentaatinya.”  (HR. Muttafaq ‘alaihi dari Ibnu Umar r.a)

Jadi dengan demikian tidak ada alasan bagi saya untuk menjadi “golput” dalam “Pilpres 2014”  ini lantaran memilih pemimpin bukanlah suatu kemaksiatan; Bahkan termasuk dalam salah satu kewajiban agama sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Taqiyuddin ibnu Taimiyah” dalam kitabnya “As-Siyaasah Asy-Syar’iyyah” antara lain menyatakan: “Perlu diketahui, bahwa memilih pemimpin untuk mengurusi umat manusia itu tergolong kewajiban agama yang bernilai besar. Bahkan agama tidak bisa ditegakkan tanpa adanya pemimpin. Oleh sebab itulah Rasulullah SAW mewajibkan dalam setiap perkumpulan atau kelompok yang terkecil sekalipun harus ada yang menjadi pemimpin. Beliau bersabda:

“Apabila ada tiga orang dalam perjalanan, maka angkatlah salah satu dari mereka sebagai pemimpin.” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah r.a)

“Tidak dihalalkan bagi tiga orang yang berada di tengah lapang, kecuali salah satu dari mereka ada yang menjadi pemimpin.” (HR. Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar r.a)

Kalau ada yang berpendapat, bahwa percuma saja memilih lantaran Pemerintah yang ada sekarang ini; juga yang akan datang tidak sesuai dengan cita-cita atau syariat Islam, bahkan ada yang menyebutnya sebagai “taghut”; maka jelas itu adalah suatu kebodohan atau kemunafikan. Sebab bagaimanapun juga selama ini tentulah ia sudah ikut menta’ati sebahagian besar hukum/aturan hidup berbangsa bernegara dimana ia bertempat tinggal.  Mulai dari sejak dirinya dilahirkan sampai sa’atnya ia dikuburkan. Contoh sederhana ialah ketika ia menikah. Hukum nikahnya memang berdasarkan syariat Islam, tapi SURAT NIKAH-nya adalah aturan Pemerintah. Begitu juga dengan KTP-nya; PASPOR-nya untuk melakukan “Umroh” atau “Naik Haji”. Bahkan untuk belanja makan dan minumnya sehari-hari, yang digunakannya adalah “Duit Pemerintah”. Bukan duit yang diturunkan Allah Ta’ala dari langit.

Oleh sebab itu, mari untuk tidak menjadi “golput”, sebab “SATU” hak suara yang kita miliki adalah sangat berarti untuk baik atau tidaknya Pemerintahan 5(lima) tahun ke depan. Soal pilihan itu adalah “hak pribadi” masing-masing.  Tanyalah hati nurani, kajilah dengan teliti siapa yang layak untuk dipilih. Yang lebih kecil mudharatnya bagi agama dan umat Islam di negeri Indonesia yang kita cintai ini.  Soal nanti apakah pemimpin yang kita pilih itu akan jujur atau tidaknya, kita serahkan saja urusannya  sama Allah Yang Maha Mengetahui. Sebab sebagaimana Firman-Nya:

 “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. A-Baqarah: 216)

Syaikh Abdullah Al-Ghazali menjelaskan; bahwa “berperang” yang dimaksudkan Allah Ta’ala tersebut tidak hanya peperangan phisik melawan musuh-musuh Islam; tapi juga berperang melawan kehendak nafsu yang jahat; melawan kebodohan dan kemiskinan dan lain-lainnya yang dapat merugikan diri kita; Baik kepentingan kita bersama sebagai umat Islam ataupun sebagai bangsa dari Negara yang merdeka. Wallahua’lam.

Bagansiapiapi, 26 Sya’ban 1435 H / 27 Juni 2014.
KH.Bachtiar Ahmad.

No comments:

Post a Comment

Sekapur Sirih

Bagi yang berminat dengan tulisan yang ada, silahkan dicopy agar dapat berbagi dengan yang lain sebagai salah satu upaya kita untuk menunaikan “amar ma’ruf nahi munkar” yang diperintahkan Allah SWT.